Selasa, 12 Februari 2013

MARJINALISASI & EKSPLOITASI PEREMPUAN

-->
Fenomena perempuan bekerja dan berusaha bukanlah hal baru dalam kehidupan kelompok-kelompok marjinal dan miskin. Usaha-usaha mikro seperti perdagangan, pengolahan makanan, industri berteknologi rendah, konveksi, dan jasa adalah jenis-jenis usaha yang banyak dijalankan perempuan baik secara mandiri maupun sebagai bagian dari sistem produksi keluarga. Berkembangnya usaha mikro sebetulnya sudah lama terjadi, tetapi paskakrisis ekonomi terjadi lonjakan jumlah dan variasi jenis usaha serta serapan tenaga kerja pada sektor tersebut. Krisis memperlihatkan kemampuan sektor-sektor ini untuk bertahan ditengah tekanan kondisi ekonomi dan politik. Di tengah krisis berkepanjangan ini, usaha mikro memberikan harapan bagi kelompok miskin untuk dapat mempertahankan kelangsungan kehidupannya. Namun demikian, bersama harapan itu masih banyak masalah yang menghambat kelangsungan usaha. Khusus bagi perempuan, hambatan ini tidak saja dari sisi usaha tetapi juga dari relasi gender yang sudah mentradisi.
Usaha mikro sangat dekat dengan perempuan. Di satu sisi hal ini memberikan peluang bagi perempuan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan produktif, tetapi di sisi lain kondisi usaha mikro itu sendiri senantiasa berada dalam keadaan buruk dan hampir tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penelitian ini tidak menafikan adanya cerita-cerita sukses perempuan yang memulai usahanya dari skala mikro dan akhirnya dapat berkembang. Tetapi, kebanyakan usaha mikro yang melibatkan perempuan di dalamnya kebanyakan bersifa subsisten. Penghasilan yang diperoleh dari usaha seperti ini sebagian besar habis untuk konsumsi keluarga sehari-hari. Dalam kasus ini, usaha mikro tidak dapat dipandang sebagai bagian dari capaian pembangunan, tetapi sebagai alat potensial untuk menghasilkan pendapatan dan kesejahteraan (White, 1991: 20).
Marjinalisasi dan eksploitasi adalah dua konsep yang digunakan dalam penelitian ini sebagai faktor-faktor penyebab ketidakberkembangan usaha mikro yang berimplikasi pada bertambah beratnya beban perempuan. Berbagai studi memperlihatkan bahwa pengintegrasian negara-negara sedang berkembang ke dalam perekonomian dunia kapitalis secara keseluruhan telah mengakibatkan kemunduran dalam penciptaan peluang-peluang dan cara-cara perempuan mempertahankan hidupnya melalui jenis-jenis produksi subsisten. Model pembangunan demikian telah mengubah pola hidup masyarakat dan menimbulkan pergeseran struktur ekonomi dan sosial. Sayangnya, proses ini tidak terjadi secara harmonis, tetapi justru menciptakan ketidakseimbangan yang berakhir pada peminggiran (marjinalisasi) kelompok-kelompok miskin pada sektor-sektor yang tidak menguntungkan, seperti usaha-usaha mikro perdesaan. Hal ini juga telah menimbulkan meluasnya feminisasi kemiskinan karena sebagian besar perempuan berada di dalamnya.

Penelitian AKATIGA-ASPPUK yang diuraikan dalam buku ini mengambil dua kasus usaha mikro perdesaan, yaitu pengolahan gula kelapa di Banyumas dan genteng di Klaten. Kedua usaha tersebut merupakan jenis usaha yang banyak dijalankan perempuan tidak secara mandiri, tetapi sebagai bagian dari sistem produksi keluarga. Dalam jenis-jenis usaha dengan sistem produksi keluarga, perempuan memiliki peran besar tetapi seringkali diabaikan dan tidak dianggap sebagai bentuk kerja produktif yang menghasilkan pendapatan (cash income). Dalam konteks inilah, AKATIGA dan ASPPUK mencoba menyoroti masalah-masalah struktural yang menyebabkan terpinggirkannya usaha mikro dan perempuan dalam kaitan dengan relasi usaha dan relasi gender. Eksploitasi adalah konsep yang digunakan untuk memetakan faktor-faktor penghambat usaha yang datang dari pelaku-pelaku usaha lain yang memiliki posisi lebih kuat. Pelaku-pelaku usaha tersebut menempati posisi dalam rantai produksi dan perdagangan yang diistilahkan dengan struktur hulu-hilir, yaitu rantai penyediaan input bahan baku, rantai pemasaran, rantai permodalan, dan tenaga kerja. Disamping itu, penelitian ini juga mencoba menyoroti apakah upaya-upaya penguatan yang dilakukan oleh berbagai Organisasi Non-pemerintah (Ornop), khususnya ASPPUK, telah mampu mengatasi persoalan marjinalisasi dan eksploitasi yang dihadapi oleh perempuan pengusaha mikro.
Dalam melakukan penelitian, analisis usaha yang bernuansa ekonomi, yaitu mengenai eksploitasi melalui rantai hulu hilir, cukup dominan terlihat dibandingkan analisis gender. Di satu sisi hal ini merupakan kelemahan peneliti dalam memilih konsep dan instrumen penelitian yang digunakan ketika melakukan penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif. Tetapi di sisi lain, temuan lapangan memperlihatkan bahwa bagi perempuan pengusaha mikro, persoalan ekonomi rumah tangga dan usaha merupakan persoalan utama yang paling berat dirasakan. Konsep yang digunakan untuk menganalisis persoalan spesifik perempuan adalah marjinalisasi dan beban ganda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar